Bagi yang sering mendengar kata rijsttafel, tapi tidak tau apa sih sebenarnya rijsttafel itu? maka saya akan coba menjelaskannya berikut ini.

 

Rijsttafel merupakan hasil percampuran budaya Indonesia dan Belanda

Banyak kejadian menarik yang terjadi dalam kehidupan orang Indonesia selama masa penjajahan Belanda yang pada waktu itu disebut sebagai Hindia Belanda. Kejadian menarik ini terjadi pada sekitar abad ke-19 dan pada paruh pertama abad ke-20.

Salah satu kejadian manarik ini bisa terlihat dalam perubahan budaya. Dimana pada masa kolonial Belanda telah terjadi transnasional campuran budaya yang berlangsung sejak abad ke-17 hingga puncaknya di abad ke-19.

Belanda merupakan salah satu masyarakat kolonial yang mempunyai peran penting dalam membawa banyak bentuk budaya baru. Bahkan, awalnya masyarakat Belanda lah yang justru terpengaruh dengan adat dan budaya penduduk asli Indonesia.

Dimana kemudian masyarakat Belanda ini memodifikasikan sesuai dengan selera mereka. Salah satu contoh bentuk budaya yang dihasilkan dari pertemuan 2 budaya Indonesia dan Belanda  dan masih ada sampai hari ini adalah kebiasaan makan atau gaya penyajian makan yang disebut rijsttafel.

 

Penjelasan istilah rijsttafel

Rijsttafel adalah istilah yang populer digunakan di Hindia Belanda pada abad ke-19. Rijst berarti “beras” dan Tafel yang arti sebenarnya adalah “meja”. Tapi disini tafel memiliki arti lain yaitu sebagai “hidangan.” Istilah ini kemudian digunakan dan dikenal oleh masyarakat Belanda dan keturunannya pada waktu itu. Jadi penyajian rijsttafel dimana satu meja penuh dengan berbagai macam makanan.

 

Asal usul munculnya rijsttafel

Asal-usul rijsttafel dimulai dari awal abad ke-19. Pada saat itu orang Belanda yang tinggal di Indonesia pada umumnya orang-orang yang tinggal sendirian di tanah koloni tanpa istri dan anak. Kondisi ini adalah jelas sulit untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka. Salah satu kesulitan mereka adalah dalam makanan sehari-hari.

Dalam negara koloni itu sulit bagi mereka untuk menemukan makanan Eropa tentunya.  Hal ini disebabkan, selain ketiadaan wanita Eropa yang biasa merawat mereka, juga karena kesulitan dalam mencari bahan untuk memasak makanan Eropa.

Untuk menangani menangani masalah ini, maka orang-orang Belanda ini menikahi wanita pribumi untuk merawat mereka. Di mana pada periode itu dikenal sebagai “Nyai”.

Nyai-nyai ini juga berperan sebagai pembantu rumah tangga. Dari para nyai ini lah orang-orang Belanda ini diperkenalkan dengan hidangan lokal dan kebiasaan makan orang Indonesia.

Terutama sejak tahun 1870 dengan adanya pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 dan peningkatan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia. Yang juga mempengaruhi perubahan budaya dan kehidupan sosial di Hindia Belanda. Ada juga peningkatan hubungan dalam ikatan keluarga dalam masyarakat Belanda itu sendiri. Hal ini membawa perubahan besar bagi kehidupan mereka di negara koloni, terutama dalam kebiasaan makan mereka. 

Selain rijsttafel banyak disajikan dirumah-rumah orang Belanda , ada juga perubahan besar dalam meningkatnya fasilitas dan tempat yang menawarkan layanan rijsttafel ini. Diantaranya hotel, restoran, wisma dan penginapan umum.

Hal-hal lain yang perlu jadi perhatian dan harus digarisbawahi dari rijsttafel pada abad ke-19 adalah ketenaran dan eksotismenya. Dimana wisatawan yang berkunjung ke Hindia Belanda pada waktu itu akan penasaran untuk mencobanya dan menikmatinya. Bayangkan saja, untuk melayani para tamu di tempat yang disebutkan di atas bisa mempekerjakan pelayan (kebanyakan pribumi Indonesia), dengan rata-rata 30-40 orang dengan memakai seragam gaya Eropa/Jawa melayani tamu ini dengan menyajikan hidangan sekitar 40 sampai 60 jenis hidangan.

 

Komposisi dari rijsttafel

Komposisi rijsttafel biasanya terdiri dari nasi (seperti nasi putih, nasi goreng, nasi kuning), sayuran (seperti Kuah sayur lodeh dan sayur asam), sup (seperti soto ayam dan rawon), hidangan daging dan ayam (seperti daging rendang, sate ayam, dan ayam opor), pelengkap masakan (seperti telur, sambal dan acar), kerupuk, pisang goreng, dan buah.

Hidangan dari Jawa biasanya mendominasi rijsttafel. Namun, pengembangan varietas hidangan rijsttafel juga meningkat dengan kedatangan masakan Cina. Untuk sekarang ini hotel seperti Des Indes di Batavia dan Savoy Homan Beau Sejour (Lembang) di Bandung, masih menyediakan layanan dengan gaya rijsttafel ke para tamu mereka.

Memang, gaya rijsttafel dimulai di rumah-rumah Belanda yang kemudian mempengaruhi orang kaya Indonesia dan Cina. dimana mereka dimasukkan rijsttafel dengan gaya tradisi dan budaya makan mereka, tetapi biasanya dalam skala layanan dan hidangan yang lebih kecil dan sederhana.

Akhirnya, pada dekade 1940-an, tradisi makan a la rijsttafel mulai menurun dengan diakhirinya masa penjajahan dan digantikannya oleh pemerintahan militer Jepang di Indonesia dan peningkatan semangat nasionalisme Indonesia. Meskipun demikian, tanpa disadari kuliner pada masa kolonial Belanda telah mempengaruhi dan memberi warisan kuliner Indonesia. Dengan hidangan seperti perkedel (dari frikadel) dan semur (rebus atau smoor) dan juga tradisi makan prasmanan yang menjadi salah satu gaya presentasi yang umum digunakan oleh orang Indonesia sampai saat ini.

 

Cobalah menu-menu rijsttafel lezat ini